7 Tips Berkomunikasi Secara Efektif dalam Mengajar

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Sebagai pengajar, tentu kita membutuhkan kemampuan komunikasi yang baik agar bisa menyampaikan materi pelajaran secara efektif. Komunikasi yang efektif mampu menjadikan siswa memahami pesan yang disampaikan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.

Seorang pengajar harus mempunyai komunikasi pribadi yang baik demi menciptakan hubungan yang harmonis dengan siswa. Selain itu pengajar diharapkan memiliki kemampuan untuk mengendalikan kondisi kelas yang sehat sebagai salah satu tolak ukur keberhasilan. 

Hal-hal tersebut dapat tercapai oleh pengajar dengan cara menguasai dan mengembangkan beberapa strategi serta teknik berkomunikasi. Seorang pengajar bisa menciptakan dan mengembangkan komunikasi yang efektif melalui materi pembelajaran yang bisa diterima dan mudah dipahami oleh murid.

Berikut akan disampaikan beberapa tips berkomunikasi secara efektif dalam proses mengajar.

Tips Berkomunikasi Secara Efektif dalam Mengajar

1. Menggunakan Bahasa yang Mudah Dipahami

Dalam berkomunikasi, hal pertama yang perlu diperhatikan adalah apakah lawan bicara mampu memahami apa yang kita sampaikan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Dalam proses pembelajaran, pengajar hendaknya menggunakan bahasa dan kosa kata yang mudah dipahami oleh siswa. 

Penggunaan kata yang tepat juga dapat mempengaruhi perkembangan anak. Selain itu, kita bisa melakukan penekanan dan penjelasan berulang-ulang pada apa yang menjadi kata kunci dari pelajaran tersebut. Perhatikan pula tempo berbicara agar selalu tepat, artinya kita tidak berbicara terlalu cepat ataupun terlalu lambat.

2. Percaya Diri

Percaya diri adalah kemampuan untuk mempercayai diri sendiri dalam hal keterampilan dan penilaian. Sebagai pengajar, kita diharapkan mampu terus memelihara rasa percaya diri saat berkomunikasi dengan siswa. Hal ini dapat mempengaruhi pemikiran siswa. Jika sedikit saja kita tidak terlihat percaya diri, maka sulit bagi siswa untuk mempercayai kita sebagai pengajar yang memberikan informasi kepada mereka. Namun sebaliknya, saat kita percaya diri, siswa akan dengan mudah menerima apa yang kita sampaikan.

3. Bersikap Asertif Saat Menangani Konflik

Sikap asertif adalah kemampuan menyelesaikan konflik di mana seseorang akan mengutarakan apa yang dirasakannya, meminta apa yang diinginkan, dan menolak apa yang tidak diinginkan.

Kita sebagai pengajar juga diharapkan memiliki sifat asertif ini, yang mampu memperjuangkan apa yang benar dan mengubah perilaku yang salah tanpa adanya paksaan yang manipulatif.

4. Empati

Berempati artinya kita sebagai pengajar mampu memposisikan diri sebagai murid agar dapat memahami apa yang dibutuhkan oleh murid. Pengajar yang baik adalah pengajar yang tidak pernah memaksa siswa-siswinya untuk menuruti semua keinginannya. Jika salah seorang siswa terlihat sedikit aneh, maka hindari untuk langsung memarahinya apalagi sampai mengusirnya keluar dari kelas.

Kita bisa mencari waktu yang tepat dan memanggilnya lalu berbicara empat mata. Kita bisa menanyakan alasan dia melakukan perbuatan yang kurang tepat, apa yang menjadi keluhannya, dan lain sebagainya.

5. Memperhatikan Komunikasi Non Verbal

Komunikasi bukan hanya verbal saja, melainkan juga non verbal. Sebagai pengajar, kita juga perlu memperhatikan komunikasi non verbal kita kepada siswa. Gerakan seperti kening berkerut tanda berpikir keras atau menggelengkan kepala tanda menolak merupakan contoh komunikasi non verbal. Seorang pengajar sebaiknya mampu membaca hal tersebut. 

Misalnya ada seorang siswa yang sedang menguap sambil meregangkan tangan. Hal itu menandakan bahwa siswa tersebut mengantuk atau mungkin saja bosan dengan materi yang tengah disampaikan. Dalam situasi seperti ini, pengajar bisa memberikan selingan yang menghibur.

6. Menghindari Kata-kata yang Menyalahkan Siswa

Dalam berkomunikasi dengan siswa, hindari penggunaan kata-kata yang terkesan menyalahkan siswa, seperti memberi label, menceramahi, memaki, dan sebagainya. Pengajar tidak perlu memberikan label “bodoh” hanya karena seorang siswa mendapat nilai buruk saat ujian. Alih-alih melebeli, kita bisa menanyakan penyebab mengapa ia mendapat nilai buruk. Sebab melabeli siswa dengan hal buruk hanya akan membuat siswa semakin merasa bersalah dan kehilangan kepercayaan diri.

7. Menjadi Pendengar yang Baik

Berkomunikasi secara efektif artinya kita mampu menjadi pembicara sekaligus pendengar yang baik. Pengajar tidak selalu harus berbicara atau memberikan arahan kepada siswa, namun ada kalanya juga harus bisa menjadi pendengar yang baik bagi siswa-siswanya. Pengajar yang bisa mendengarkan pendapat siswa tentu akan mendapat nilai plus tersendiri di mata para siswanya. Siswa yang diberi kesempatan mengutarakan pendapat juga tentu akan senang karena mereka merasa dihargai.

Nah, itulah tadi beberapa tips mengenai cara berkomunikasi efektif dalam mengajar. Semoga kita sebagai pengajar senantiasa menerapkan hal-hal di atas agar kegiatan pembelajaran berjalan dengan baik dan efektif.