Dampak Teori Labeling terhadap Prestasi Siswa

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Pernahkah kita sebagai guru mengatakan kepada siswa kalimat yang kurang baik seperti “Kenapa sih, begini saja tidak bisa?”, “Kerjain PR-nya dong, malas sekali sih.”, “Kamu itu nakal sekali” dan lain sebagainya.

Tahukah bahwa kalimat seperti itu bukan cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah? Kalimat seperti itu justru akan merendahkan atau menjatuhkan mental siswa yang mendengarnya.

Saat kita mengatakan kata ‘malas’, ‘nakal’, ‘bodoh’, dan sebagainya kepada anak, maka anak justru memiliki kecenderungan mempertahankan dan melanjutkan kebiasaan tersebut sesuai perkataan yang kita berikan kepadanya. Dampak lainnya adalah, siswa yang mendapat label seperti itu akan merasa sakit hati dan lebih parahnya tumbuh menjadi sosok yang tidak percaya diri.

Fenomena seperti ini yang dalam istilah sosiologi disebut dengan ‘Labeling’ (penjulukan). Edwin M. Lemert memperkenalkan teori labeling yang ia ilhami dari teori interaksi simbolik George Herbert Mead. Menurut teori ini, kontrol sosial yang diberikan terhadap seseorang mampu menimbulkan penyimpangan.

Namun, jika bapak/ibu guru menggunakan cara ini dengan baik, maka sebaliknya, justru akan memberi manfaat besar bagi siswa di kehidupan sehari-hari. Pada pelaksanaanya, kita bisa menggunakan teori labeling ini untuk memberikan motivasi kepada siswa. Dari motivasi baik ini, diharapkan siswa dapat menemukan jati dirinya.

Kita bisa mulai mempraktikkan labeling yang bersifat positif mulai sekarang, coba ucapkan kalimat positif seperti “Kamu pasti bisa”, “Kamu bisa kok menyelesaikan soal ini”, “Bapak/Ibu percaya kamu anak yang cerdas”, dan sebagainya. Alih-alih merasa tidak percaya diri, siswa akan semakin semangat apabila mendapat kalimat positif dari bapak/ibu guru mereka.

Berikut akan disampaikan dampak dari pemberian label negatif, agar kita semua lebih bijak dalam mengucapkan kalimat kepada siswa.

Dampak Pemberian Label kepada Siswa

1. Mempengaruhi Mental Siswa

Labeling khususnya dengan menggunakan kalimat negatif jelas memberi dampak kurang baik ke mental siswa yang diberi label. Siswa bisa kehilangan kepercayaan diri, merasa selalu dipandang sebelah mata, selalu berpikir negatif, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, sebagai guru kita perlu benar-benar memperhatikan kalimat yang disampaikan kepada siswa. Karena satu kalimat yang kita ucapkan bisa meninggalkan bekas dalam waktu yang lama pada diri siswa.

2. Menjadikan Siswa yang Diberikan Label Menjadi Semakin Diasingkan

Siswa yang terlalu sering mendapat label negatif akan merasa diasingkan atau dianggap tidak ada. Hal ini bisa terjadi karena label yang diberikan justru membatasi interaksi serta hubungan sosial antara siswa yang diberi label dengan sekitarnya. Tentu sebagai guru, kita tidak ingin bukan siswa yang kita sayangi menjadi seperti itu?

3. Siswa Memiliki Kecenderungan untuk Melakukan Penyimpangan Terus Menerus

Labeling secara negatif dapat membuat siswa yang diberi label terus menerus berbuat hal yang sama atau terus menyimpang. Jadi jangan pernah beranggapan apabila kita mengucapkan kalimat buruk kepada siswa, siswa akan termotivasi untuk berubah. Selalu gunakan kalimat positif untuk menyentuh perasaan siswa.

4. Menciptakan Stigma Buruk

Pemberian label negatif yang dilakukan secara terus menerus akan melahirkan stigma buruk bagi siswa yang diberi label. Akibatnya siswa tersebut akan semakin dikucilkan dari kehidupan sosialnya. Padahal belum tentu selama hidupnya dia terus menerus berbuat negatif.

Cukup jelas bukan dampak yang muncul apabila kita sebagai guru terus membiasakan memberikan label negatif kepada siswa? Oleh karena itu belum terlambat jika ingin mengganti kalimat negatif dengan kalimat positif yang lebih memotivasi. Jika siswa melihat guru yang memberikan energi positif, maka lambat laun siswa juga akan mengikuti perilaku dan tutur kata kita.

Semoga informasi di atas bisa bermanfaat. Selamat mendidik dengan adil dan bijaksana bapak/ibu guru semua!