Pentingnya Memiliki Kecerdasan Emosional Bagi Pengajar

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Sebagai seorang pengajar, kita tentu sudah sering mendengar istilah kecerdasan emosional (EQ). Kecerdasan emosional (EQ) adalah kemampuan untuk memahami, mengendalikan, serta mengevaluasi emosi. Kecerdasan emosional yang dikaitkan dengan  seorang pengajar artinya pengajar memiliki kemampuan untuk mengenali emosi diri, mengendalikan diri, memotivasi diri, berempati dan membina hubungan yang nantinya dapat menjadi contoh bagi siswa sebab siswa tentu memperhatikan perilaku pengajar atau gurunya.

Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi kecerdasan emosional. Beberapa peneliti menjelaskan bahwa kecerdasan emosional dapat dipelajari dan diperkuat. Sedangkan ada juga yang mengatakan bahwa kecerdasan emosional merupakan genetik atau bawaan sejak manusia lahir ke dunia. Terlepas dari dua perbedaan pendapat tersebut, yang perlu digaris bawahi adalah penting bagi seorang pengajar untuk memiliki kecerdasan emosional. Mengingat siswa benar-benar memperhatikan tingkah laku pengajar atau gurunya.

Elemen Kecerdasan Emosional

Kecerdasan emosional yang tinggi mampu membuat seseorang menguasai 5 elemen keterampilan ini:

1. Kesadaran Diri (Self Awareness)

Kesadaran diri adalah kemampuan untuk mengenali dan memahami emosi diri sendiri. Hal ini termasuk bagian penting dari kecerdasan emosional. Untuk mengasah kesadaran diri, pengajar dapat memonitor emosi dan mengenali reaksi emosional yang berbeda. Kemudian melakukan identifikasi terhadap setiap emosi tertentu dengan benar. Seseorang yang memiliki kesadaran diri dengan baik cenderung memiliki selera humor yang baik, percaya diri dengan diri dan kemampuan sendiri, serta mampu menyadari bagaimana orang lain memandang mereka.

2. Regulasi Diri (Self Regulation)

Keterampilan kedua yang bisa dikuasai dari memiliki kecerdasan emosional adalah regulasi diri. Kecerdasan emosi menuntut pengajar agar mampu mengatur dan mengelola emosi yang muncul dari dalam diri. Artinya pengajar perlu menunggu waktu dan tempat yang tepat untuk mengungkapkan apa yang sedang dirasakan kepada siswa. Regulasi diri ini nantinya akan sangat membantu dalam mengekspresikan emosi secara tepat.

Pengajar yang sudah terbiasa dan terampil melakukan regulasi diri cenderung lebih fleksibel dan mudah beradaptasi terhadap perubahan. Pengajar  juga akan lebih pandai mengelola konflik dan meredakan situasi tegang atau sulit yang bisa terjadi sewaktu-waktu di dalam kelas. Pengajar yang memiliki regulasi diri yang baik tidak hanya akan memikirkan bagaimana mereka akan mempengaruhi siswanya, tetapi juga bagaimana bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri.

3. Keterampilan Sosial (Social Skill)

Keterampilan sosial menjadikan seorang pengajar mampu berinteraksi dengan baik kepada orang lain, dalam hal ini siswa dan lingkungan di sekitarnya. Memiliki keterampilan ini penting karena pengajar bisa menggunakan informasi tentang emosi diri dan orang lain sebagai pijakan dalam interaksi dan komunikasi sehari-hari. Contoh keterampilan sosial adalah mendengarkan secara aktif, keterampilan komunikasi verbal, keterampilan komunikasi nonverbal, kepemimpinan, dan persuasif.

4. Empati (Empathy)

Empati dapat membuat seseorang memahami dan menumbuhkan koneksi dengan orang lain secara emosional. Empati merupakan aspek yang sangat penting bagi kecerdasan emosi seorang penagajr karena tidak hanya sekadar mampu mengenali keadaan emosional orang lain, tetapi juga mengetahui respon apa yang harus dibangun kepada orang lain berdasarkan informasi yang telah diperoleh. Contohnya, apabila seorang pengajar menemukan siswa atau orang lain yang ada di sekitar sedang sedih atau putus asa, maka pengajar bisa memperlakukan mereka dengan perhatian dan kepedulian ekstra, atau mungkin juga berusaha untuk menguatkan dan memberi semangat mereka.

5. Motivasi (Motivation)

Seseorang yang cerdas secara emosional adalah dia yang mampu memotivasi dirinya sendiri. Motivasi dari dalam diri menjadi peran kunci dalam kecerdasan emosional. Pengajar dengan kecerdasan emosional yang baik akan lebih termotivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik karena dirinya sendiri dibandingkan faktor motivasi dari luar seperti penghargaan dari orang lain, ketenaran, uang, pengakuan, dan pujian. Pengajar yang sudah mampu mengembangkan motivasi dari dalam diri akan lebih berorientasi pada tindakan. Pengajar yang seperti ini akan lebih mudah dalam menetapkan tujuan, memiliki kebutuhan tinggi akan prestasi, dan selalu mencari cara untuk melakukan yang lebih baik. Pengajar seperti ini cenderung sangat berkomitmen dan pandai mengambil inisiatif.

Manfaat Memiliki Kecerdasan Emosional

Dengan menguasai beberapa keterampilan yang telah disebutkan di atas, kita, sebagai pengajar akan memiliki hubungan yang menyenangkan di lingkungan kerja. Berikut adalah manfaat-manfaat yang bisa diperoleh saat seorang pengajar memiliki EQ yang tinggi:

1. Komunikasi yang Efektif

Pengajar dengan kecerdasan emosional yang baik cenderung memiliki pola komunikasi yang lebih efektif. Dengan begitu, kita akan lebih mudah dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kecerdasan emosional yang tinggi dapat membuat seseorang mampu mendengarkan dan memberi respon secara baik dengan rekan kerja.

2. Mengatasi Tekanan Pekerjaan dengan Baik

Menjadi seorang pengajar tentu tidak terlepas dari berbagai tekanan yang datang. Hal ini bisa menyebabkan seseorang kehilangan emosinya dan dapat merugikan orang lain. Namun, dengan memiliki kecerdasan emosional yang tinggi, kita akan lebih mudah mudah mengatur tingkat stres yang dialami.

3. Mampu Menerima Masukan

Sebagai pengajar, kita tentu sering mendapat kritik dari kepala sekolah, sesama rekan pengajar, atau bahkan  siswa. Kritik ini tentu sangat penting agar kita menjadi lebih berkembang. Pengajar yang memiliki kecerdasan emosional akan lebih mudah menerima kritik dengan baik tanpa melakukan pembelaan diri.

Demikianlah, informasi terkait pentingnya kecerdasan emosional bagi seorang pengajar. Jika kita sebagai pengajar masih belum merasa memiliki hal tersebut, tidak perlu berkecil hati. Sebab kecerdasan emosional ini masih tetap bisa diasah selama kita masih hidup di dunia. Jandi tetap semangat dan jangan menyerah. Karena nasib anak bangsa dimulai dari tangan kita sebagai pengajarnya!