Penerapan Blended Learning-Flipped Classroom sebagai Inovasi Pembelajaran

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Pandemi masih belum kunjung berakhir. Masih banyak sektor terdampak, tidak terkecuali pendidikan. Hal ini tentu menjadi pekerjaan rumah yang cukup besar bagi instansi pendidikan agar layanan pendidikan tetap berjalan dengan baik.

Awal pandemi, seluruh kegiatan pembelajaran dilakukan secara penuh secara jarak jauh. Namum, pembelajaran daring ini lambat laun mulai dikeluhkan berbagai pihak, seperti siswa, guru, hingga orang tua. Oleh karena itu, kemendikbud berupaya mencari solusi dengan memberikan arahan kepada instansi pendidikan agar memanfaatkan model pembelajaran blended learning, yaitu metode belajar dimana proses belajar tatap muka yang berpadu dengan proses pembelajaran daring. Blended learning sendiri memiliki beberapa pendekatan salah satunya adalah flipped learning atau flipped classroom (pembelajaran terbalik). 

Adakah yang sudah mengenal metode pembelajaran ini? Jika masih ada yang masih bingung, langsung saja simak ulasan lebih detail terkait metode blended learning-flipped classroom.

Pengertian Flipped Classroom

Menurut Uwes Chaeruman, flipped classroom (pembelajaran terbalik) adalah model pembelajaran di mana siswa diminta untuk mempelajari materi terlebih dahulu sesuai dengan arahan guru guru sebelum proses pembelajaran di kelas dimulai.

Pada pelaksanaan metode flipped classroom, guru didorong untuk mempersiapkan konten materi dalam bentuk modul, handout, video dan tugas yang akan dipelajari siswa di rumah. Selanjutnya, apa yang sudah dipelajari akan dibahas bersama guru di kelas secara mendalam sesuai waktu yang telah disediakan.

Blended learning dengan metode flipped classroom dapat digunakan pada semua mata pelajaran di setiap jenjang satuan pendidikan, melalui perencanaan yang baik sesuai kondisi yang ada. Penerapan blended learning metode flipped classroom dalam proses pembelajaran akan berlangsung lebih akomodatif karena kebutuhan waktu belajar siswa terpenuhi, baik secara jarak jauh maupun tatap muka.

Langkah Penerapan Flipped Classroom

Berikut adalah langkah-langkah yang perlu diperhatikan untuk menerapkan metode flipped classroom:

  1. Guru membagi siswa menjadi 2 kelompok besar. Kelompok 1 akan melakukan pembelajaran tatap muka di periode pertama dan pembelajaran daring di periode selanjutnya. Sebaliknya Kelompok 2 akan melakukan pembelajaran daring di periode pertama dan pembelajaran tatap muka di periode selanjutnya.
  2. Guru membagi materi pembelajaran menjadi 2 kategori. Kategori 1 adalah materi yang dapat dipelajari siswa secara mandiri dan Kategori 2 adalah materi yang perlu dipandu/didiskusikan dengan guru maupun teman sebaya.
  3. Siswa pada Kelompok 1, melakukan pembelajaran tatap muka pada periode pertama di mana kegiatan berfokus pada diskusi dan aktivitas pembelajaran yang dipandu oleh guru. Setelah itu, pada periode selanjutnya saat siswa belajar di rumah, guru dapat melakukan pembelajaran daring yang menekankan pada materi Kategori 1.
  4. Siswa pada Kelompok 2, melakukan pembelajaran daring pada periode pertama di mana kegiatan berfokus pada materi Kategori 1 yang lebih menekankan aktivitas penugasan mandiri yang dapat dilakukan dari rumah. Setelah itu, pada periode selanjutnya saat siswa belajar secara tatap muka, guru dapat berfokus pada materi Kategori 2 dengan mengadakan aktivitas diskusi dan pembelajaran aktif lainnya di kelas.
  5. Pastikan Bapak/Ibu guru dapat mengatur waktu dengan baik agar jam pembelajaran siswa Kelompok 1 dan Kelompok 2 tidak saling bertabrakan.
  6. Lakukan refleksi dan evaluasi secara berkala untuk mengecek pemahaman siswa serta umpan balik mengenai kendala ataupun kesulitan yang dihadapi siswa selama mengikuti pembelajaran dengan metode blended learning-flipped classroom ini.

Tips Implementasi Flipped Classroom

Agar bisa terlaksana dengan baik, pembelajaran menggunakan metode flipped classroom ini  bisa dilakukan dengan beberapa cara, antara lain:

1. Content Curator

Pada tahap ini, guru melakukan kegiatan search, find, and curate atau cari, temukan, dan pilih. Kita bisa memanfaatkan search engine (google) untuk mencari, menemukan dan memilih konten yang relevan (link, teks, slide presentasi, video, simulasi, dll).

2. Membuat Konten Sendiri (DIY Konten)

Sesuai dengan namanya, guru bisa membuat konten sendiri sebagai media pembelajaran. Kita bisa menggunakan authoring tools untuk membuat konten sendiri seperti podcast, talking head, audio presentasi, slide, diktat, dll.

3. Menyampaikan Konten

Setelah memiliki konten, langkah selanjutnya tentu membagikan konten kepada siswa. Pada penerapannya, konten bisa disampaikan menggunakan Learning Management System (LMS) tertentu, Google classroom, Schoology, atau Ujione.

4. Asuh Aktifitas

Guru melakukan aktivitas pembelajaran dengan memberikan arahan kepada siswa. Hal ini bertujuan agar guru tetap bisa mengontrol proses pembelajaran meskipun pembelajaran dilakukan secara daring.

5. Tatap Maya

Dalam melakukan kegiatan ini, guru bisa melakukannya melalui video conference dan penyampaian materi secara online.

6. Tatap Muka

Pembelajaran tatap muka dimaksudkan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang belum bisa dilakukan secara daring, seperti demonstrasi, praktikum, dan kegiatan penting lainnya.

Nah demikian penjelasan terkait metode blended learning-flipped classroom. Semoga informasi di atas bisa menjadi tambahan pengetahuan bagi kita semua.

Oh iya, untuk mendukung terselenggaranya metode flipped classroom dengan lebih maksimal, bapak/ibu guru juga bisa menggunakan aplikasi Ujione yang saat ini juga sudah dilengkapi fitur e-learning dan video conference. Happy teaching!