5 Permainan Tradisional yang Bisa Diterapkan dalam Proses Pembelajaran di Sekolah

Seiring dengan perkembangan zaman yang hampir semua sektornya menerapkan sistem digital, keberadaan hal-hal yang bersifat tradisional pun mulai terpinggirkan. Salah satunya yang terdampak adalah permainan tradisional. Dulu, ramai anak sekolah memainkan permainan tradisional ini, namun saat ini banyak permainan sudah tersedia di gawai bahkan tanpa perlu keluar rumah dan membutuhkan lahan permainan yang luas.

Meski begitu, tidak ada yang perlu disalahkan. Hanya saja, kita juga perlu mengenalkan pada generasi sekarang terkait permainan tradisional. Permainan tradisional yang dilakukan anak-anak ini juga bisa melatih kemampuan kerjasama mereka. Selain itu, permainan tradisional juga bisa dijadikan alat untuk menunjang proses pembelajaran.

Lalu, apa saja sih permainan-permainan tradisional yang bisa dimanfaatkan sebagai media pembelajaran? Berikut ulasan lengkapnya.

Permainan Tradisional yang Bisa Diterapkan dalam Proses Pembelajaran di Sekolah

1. Petak Umpet

Siapa sih yang tidak kenal petak umpet? Permainan tradisional yang satu ini sangat terkenal dan mudah dimainkan. Salah satu siswa hanya perlu berjaga, sementara sisa siswa lainnya mencari lokasi sembunyi. Lalu, materi atau mata pelajaran apa yang cocok dengan petak umpet ini?

Salah satu mata pelajaran yang bisa menggunakan petak umpet sebagai media pembelajaran adalah bahasa inggris. Dalam pelaksanaannya, seorang siswa yang berjaga bisa diminta untuk menghitung menggunakan bahasa Inggris yang dipelajari di kelasnya. Atau bisa juga menghitung menggunakan beberapa kosakata bahasa Inggris. Guru bisa menyepakati terlebih dulu berapa jumlah yang harus dihitung.

Selain itu, Guru juga bisa menentukan ketentuan ketika siswa yang berjaga menemukan teman-teman lainnya yang bersembunyi, sang siswa harus menyebutkan nama teman-temannya dengan istilah-istilah lain yang sedang dipelajari dalam materi pelajaran bahasa Inggris. Hal-hal seperti ini yang akan membuat pembelajaran menjadi lebih seru dan menyenangkan.

2. Congklak

Permainan tradisional yang satu ini cukup seru dan digemari untuk dimainkan. Dengan alat permainan yang dikenal sebagai dakon, congklak masih mudah ditemukan di pasar tradisional. 

Cara memainkan congklak juga cukup mudah. Pemain hanya perlu mengambil biji-bijian yang terdapat pada setiap lubang di dakon dan mengisi lubang-lubang lain satu per satu dengan biji-bijian yang diambil. Jika biji jatuh di lubang yang terdapat biji-bijian lain, pemain bisa meneruskan mengisi lubang. Tapi bila jatuh di lubang yang kosong, maka pemain tidak bisa melanjutkan permainannya.

Lalu materi apa yang cocok diajarkan dengan congklak?

Salah satu materi yang bisa diterapkan konsep dasar Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) pada mata pelajaran matematika.

Caranya, siapkan congklak lalu beri nomor untuk setiap lubang pada dakon. Siapkan biji-bijian yang terdiri dari dua warna, misalnya kuning dan hijau. Nah, sebelum mulai bermain, guru bisa memberikan permasalahan yang nantinya dijawab oleh para siswa, misalnya mencari KPK dari angka 2 dan 3.

Selanjutnya Masukkan biji kuning untuk kelipatan 2, jadi letakan pada lubang nomor 2, 4, 6, 8, 10, 12, dan seterusnya. Lalu masukkan biji hijau untuk kelipatan 3, jadi letakan biji-bijian itu pada lubang bernomor 3, 6, 9, 12, 15, dan seterusnya. Dari sini, Guru akan menemukan bahwa lubang dengan nomor 6, 12, dan kelipatannya berisi 2 biji yang sama. Guru bisa menjelaskan bahwa 6, 12, dan kelipatannya merupakan KPK dari 2 dan 3. Dari persekutuan itu, bilangan terkecilnya adalah 6.

3. Engklek

Engklek atau biasa dikenal dengan dampu, termasuk permainan tradisional yang paling terkenal seantero Nusantara. Cara memainkannya juga mudah dan unik. Pemain hanya perlu melompati bidang-bidang datar yang digambar di atas tanah menggunakan satu kaki. Pada ujung petak, dibuat bentuk mirip gunung.

Sebelum melompat, seorang pemain harus melempar sebuah batu yang dikenal sebagai “gaco”. Gaco wajib dilempar ke petak sesuai urutan, yang mana petak yang terdapat gaco dilarang untuk diinjak. Setelah mencapai petak gunung, pemain berbalik untuk mengambil gaco yang dimiliki untuk kemudian dilemparkan lagi ke petak urutan selanjutnya.

Lalu materi apa yang bisa diajarkan dengan engklek? 

Ternyata, kita bisa menggunakannya dalam semua materi, lho! Iya, engklek bisa digunakan sebagai alat bantu untuk mengingat dan menghafal sebuah konsep pelajaran. Bagaimana caranya? Guru bisa meletakkan kartu soal pada masing-masing petak, lalu setiap siswa yang masuk ke petak itu harus menjawab soal yang ada.

4. Gobak Sodor

Dari banyaknya permainan tradisional, gobak sodor adalah permainan yang bisa dikatakan paling seru. Gobak sodor sendiri memiliki banyak manfaat di antaranya dapat melatih kekompakan, kerja sama, dan yang utama keberanian pemainnya.

Gobak sodor adalah permainan kelompok. Diperlukan dua kelompok untuk memainkan gobak sodor. Satu kelompok sebagai tim laku dan satu kelompok lainnya adalah tim jaga. Inti dari permainan ini sendiri adalah tim jaga harus berdiri tepat di garis depan petak gobak sodor agar tim laku tidak bisa melewati garis petak tersebut secara bolak-balik. Jika tim laku ingin menang, maka seluruh anggota timnya harus bolak-balik.

Materi yang bisa diajarkan adalah pembelajaran PKN atau materi yang berhubungan dengan kerja sama. Para siswa akan merasakan pengalaman langsung bagaimana Guru juga diharapkan mampu memberikan kesempatan para siswa berdiskusi sendiri menentukan formasi dan strategi timnya. Dengan begitu, para siswa bisa belajar memecahkan masalah dan bertanggung jawab.

5. Gasing

Siapa yang masih asing dengan asing? Tentu hampir semua mengenal gasing bukan?

Gasing merupakan permainan yang sederhana. Saat dimainkan secara berkelompok, maka gasing harus diputar dalam waktu bersamaan. Kelompok yang gasingnya berhenti paling akhir, dialah pemenangnya. Sangat sederhana bukan?

Sekilas mungkin kita akan kesulitan menemukan celah untuk membawa permainan ini dalam pembelajaran. Namun jika kita benar-benar memperhatikan dan kreatif, maka akan kita temukan banyak sekali materi ajar yang bisa dipahami dengan alat yang satu ini.

Salah satunya adalah pengenalan konsep pengukuran waktu.

Untuk konsep pengukuran waktu siswa kelas bawah, kita bisa menggunakan media ini. Caranya, siswa diminta memutar beberapa gasing secara bergantian. Untuk setiap putaran, kita mengajak mereka mencatat lama waktu yang diperlukan gasing untuk berputar.

Lalu guru bisa melanjutkan dengan memutar dua gasing bersamaan. Siswa diminta membandingkan waktu putaran masing-masing gasing. Dari perbedaan waktu putaran, guru mulai mengasah daya pikir siswa untuk menyebutkan faktor apa yang menentukan lamanya putaran. Mungkin siswa menyebutkan kuat lemahnya tenaga waktu memutar, adanya angin, atau halus kasarnya lantai.

Nah itulah tadi permainan-permainan tradisional yang bisa dimainkan sebagai metode pembelajaran bagi para siswa. Selain lebih segar dan menyenangkan, belajar dengan menyelipkan permainan tradisional akan memudahkan siswa dalam memahami materi. Selain itu siswa akan lebih mengenal permainan tradisional yang sudah ada berpuluh-puluh tahun lamanya sehingga nantinya bisa turut melestarikan permainan tradisional yang sudah jarang dimainkan anak-anak.  

© Copyright Oleh PT Jetorbit Teknologi Indonesia.
PT Jetorbit - Jln Godean KM 4,5. Ruko Godean Permai KAV 3, Sleman, DI Yogyakarta, Indonesia